Tuesday, 19 July 2011

RAJA SISINGAMANGARAJA & HINDUISME

Artikel ini semata hanya untuk menjawab keingintahuan dari pertanyaan ‘Mengapa Sisingamangaraja tidak makan B2?’, apa alasannya? kenapa? why ?
Patuan Bosar Sinambela atau Ompu Pulo Batu lahir di Bakkara, pada tahun 1849 dan ditabalkan menjadi Si Singamangaraja XII pada tahun 1875 di Bius Patane bale-Onan Balige, di Baligeraja. Sudah menjadi suatu kebiasaan turun-menurun bahwa siapa yang akan menjadi Sisingamangaraja selanjutnya harus menjalani beberapa ujian sebelum ditabalkan.

Ompu Pulo Batu dan abangnya Raja Pallupuk juga menjalani ujian tersebut untuk menggantikan ayah mereka Sisingamangaraja XI, O.Sohahuaon. Dari hasil pengujian tersebut maka diketahui bahwa Ompu Pulo Batu yang layak memangku gelar Sisingamangaraja XII setelah berhasil mencabut ‘Piso gaja dompak’ dari sarungnya sebagai syarat mutlak pemangku gelar Singamangaraja. Di samping ujian mencabut Piso gaja dompak ada juga pengujian lainnya yaitu mampu mendatangkan hujan, menjinakkan kuda ‘Sihapas pili’ dan syarat lainnya.
Gelar Singamangaraja, terdiri dari dua kata ’singa’ dan ‘mangaraja’, gelar ini disinyalir berasal dari bahasa Sanskrit yaitu dari kata Singha(singa=lion) dan Maharaja(Mangaraja= great king).
Gelar Singamangaraja atau ‘Priester Koning’(Raja Imam) ini meneruskan kebiasaan tradisi Imam pemimpin yang menurut sejarah sebelumnya dipegang oleh Raja Uti. Raja Uti yang dipercaya sebagai inkarnasi dari Mulajadi Nabolon(Tuhan Pencipta) telah memberikan kuasa dan otoritasnya kepada Singamangaraja I untuk meneruskan tradisi Raja Imam ini turun-menurun inter generasi. Raja Uti yang mewariskan dinasti Hatorusan di Barus juga telah mewariskan pusaka Singamangaraja seperti Piso gaja dompak, Piso pangabas, dll.
Barus yang oleh pedagang arab disebut ‘fansur’ dan ‘P’o-lu-shih’ pada literatur cina kuno jaman dinasti Liang(502-557), dan juga disebut ‘fanfur/fansur’ oleh Marco Polo pada abad ke 2, berada di pesisir barat pulau Sumatra ialah pelabuhan penting pada abad ke 7 s/d 12 dalam peta perdagangan di asia. Banyak pedagang dari India, Cina, Eropa dan Persia yang datang ke Barus untuk membeli Kemenyan(benzoin) dan Kapur barus(Champor).
Dan sejarah mencatat, ada sekitar 1500 pedagang Tamil yang pernah datang ke Barus untuk berdagang dan menetap disana. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti Tamil di Lobu tua. Seiring waktu dengan banyaknya pedagang Tamil yang pernah menetap di Barus, kelamaan mereka juga menularkan kepercayaan Hindunya kepada penduduk setempat.
Tidak dipungkiri bahwa kebudayaan Hindu telah meresap kedalam kebudayaan Batak, hal ini dipercaya dengan adanya pinjaman 300 kata yang berasal dari bahasa Sanskrit yang dipakai dalam beberapa aspek kebudayaan batak antara lain dalam hal astrologi, majik, kalender , ritual kuno dan juga pengobatan. Harry Parkin berpendapat bahwa teori dan praktek majik batak mempunyai banyak persamaan dengan tradisi kuno Hindu di India Selatan. Hal itu merupakan hasil kajian Harry Parkin, Pastor protestan yang tinggal dan belajar di India yang kemudian tertarik mempelajari kosmologi batak dan hasil kajiannya dibukukan dalam ‘Batak Fruit of Hindu Thought’, 1978.
Kebudayaan Hindu(india) yang tertular dan meresap kedalam Kebudayaan batak kuno ini dapat kita lihat dalam ritual persembahan ‘hoda debata’(kuda dewata). Dalam agama Vedisme/Brahmanisme persembahan ‘kuda dewata’ ini dikenal sebagai ritual ‘Ashvamedha’ (Sanskrit, ashva:horse, ashvamedha:”horse sacrifice”) yaitu salah satu ritual penting pada aliran kepercayaan vedisme, cikal bakal agama Hindu dan ritual Ashvamedha ini juga tertulis dalam kitab Mahabrata dan Ramayana.
Sedangkan dalam kepercayaan batak kuno ritual persembahan ‘hoda debata’ dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan warna kuda yang sudah ditetapkan yaitu Warna Putih(hoda Sihapas pili) dipersembahkan untuk Mulajadi Nabolon yang berinkarnasi kepada Raja Uti, warna Hitam(hoda Silintong) dipersembahkan untuk Batara Guru yang berinkarnasi kepada Sisingamangaraja dan terakhir warna belang coklat(hoda na bara) dipersembahkan kepada Soripada-Mangalabulan yang berinkarnasi kepada Sultan Barus/Raja Hatorusan.
Sisingamangaraja merupakan Inkarnasi Batara Guru.
Menurut cerita proses ajaib kelahiran Sisingamangaraja I bermula saat jatuhnya ‘jambu barus’ dari langit waktu Ibunya yaitu Siat Natundal istri dari Raja Bonanionan Sinambela, sedang mandi dan kemudian memakan buah tersebut. Lalu sebulan setelah kejadian itu maka mengandunglah Siat natundal tetapi sampai 3 tahun tidak kunjung lahir juga bayi dalam rahimnya. Kemudian hal ini membuat resah suaminya-Raja Bonanionan dan menanyakan keganjilan ini kepada Datu(Shaman), dan Datu itu berkata bahwa keanehan ini dikarenakan bahwa bayi yang dikandung istrinya itu ialah inkarnasi dari ‘Batara Guru’ dan Datu itu meramalkan bahwa bayi itu akan lahir pada tahun keempat.
Setelah 4 tahun kemudian lahirlah bayi tersebut dengan disertai oleh gemuruh halilintar, gempa bumi dan tanda-tanda keajaiban lainnya. Setelah bayi itu lahir, Sang ayah juga menerima Kitab Batara Guru dan didalam kitab itu disebutkan bahwa dia harus memanggil anaknya ‘Singamangaraja’. Dan sebab itu Singamangaraja I disebutkan sebagai ‘inkarnasi dari Batara Guru’ dan mempunyai kesaktian.
Disini kita lihat bahwa ‘Batara Guru’ juga merupakan peresapan kebudayaan Hindu yang masuk ke dalam kebudayaan batak kuno dan beberapa kerajaan di daerah sumatra, jawa dan bali. Batara Guru berasal dari bahasa Sanskrit yaitu dari kata ‘Batara’(Lord) dan ‘Guru’(Teacher).
Dalam Kitab Negarakertagama disebutkan bahwa kelahiran Raja Hayam wuruk yang merupakan titisan dari ‘Batara Girinatha’(Batara Guru) mempunyai ciri yang sama dengan kelahiran Singamangaraja I yaitu dengan tanda disertai gempa bumi, gemuruh halilintar, hujan abu dan hal ini menjadi tanda bahwa Hayam Wuruk dipercaya sebagai inkarnasi dari Batara Girinatha(Lord of Mountain). Menurut Kepercayaan Hindu Batara Guru ialah nama lain/gelar untuk Dewa Shiva(Siwa) dan Hindu-jawa menyebutnya ‘Sang Hyang Batara Guru’.
Pengaruh kepercayaan hindu lainnya yang meresap kedalam kebudayaan batak kuno ialah tentang teori ‘Debata Natolu’ (Dewa 3 serangkai) yang dalam kepercayaan hindu disebut ‘Shivaitic Trimurti atau Maheshvaramurti’ yaitu terdiri dari ‘Batara Guru (Maheshvara, Shiva), Soripada (Shri pada, i.e. Vishnu) and Mangalabulan (Mahakala)’.
Beberapa asimilasi dari kepercayaan hindu yang kemudian diikuti oleh Singamangaraja ialah mengenai larangan memakan hewan babi pada saat melakukan ritual ‘hoda debata’ dan larangan Singamangaraja untuk memakan daging babi & anjing seperti halnya para Brahmana yang lebih banyak menjadi vegetarian
Sebagian Batak Scholar pernah berpendapat bahwa Singamangaraja tidak memakan hewan babi dikarenakan Beliau telah menjadi Muslim. Hal itu dikarenakan kedekatan hubungannya dengan Raja Aceh dan juga adanya aksara arab dalam Cap/stempel Singamangaraja. Walaupun ‘Teungku Aceh’ gelar untuk Singamangaraja, dekat dengan Raja Aceh tapi Beliau tidak menjadi Muslim dan mengenai aksara arab dalam stempel Singamangaraja ialah dikarenakan pada masa itu yang banyak dipakai ialah tulisan Jawi, oleh sebab itu Singamangaraja juga memakai aksara Jawi dalam stempelnya. (disarikan oleh: s.m.n)

RAJA DAN KERAJAAN SIMALUNGUN

Pengantar
Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang). Demikian pula halnya dalam mengurai asal muasal masyarakat Simalungun, yang banyak berpijak dan tergantung pada aspek diaspora masyarakat Batak (Toba) sehingga, raja dan kerajaan di Simalungun itu dinyatakan berasal dari Batak (Toba).
Padahal, secara struktur dan organisasi sosial, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara kedua suku Batak tersebut, sehingga tidak dengan begitu saja menarik kesimpulan bahwa suku Simalungun merupakan diaspora Batak Toba yang sukses di perantauan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penulis seperti JV. Vergouwen, Washinton Hutagalung, JR. Hutauruk, Batara Sangti maupun MO. Parlindungan yang kontroversial itu. Yang sangat mengesankan, jika bukan ironis adalah bahwa penulis Simalungun banyak pula yang mengutip pendapat tersebut sebagai sebuah fakta kebenaran tanpa melakukan penggalian lebih lanjut seperti yang dilakukan oleh TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah Simalungun maupun oleh MD. Purba dalam berbagai bukunya yang diterbitkan untuk kalangan sendiri. Akibatnya, sejarah kebudayaan Simalungun menjadi rapuh dan tidak dapat berdiri sendiri.
Simalungun dalam Literatur
Dalam masyarakat Simalungun tidak terdapat begitu banyak literatur (pustaha) yang mengisahkan tentang riwayat kerajaan tersebut sehingga mengalami kesulitan dalam rekonstruksinya kemudian. Hanya saja, berdasarkan sejarah lisan yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya bahwa setidaknya tiga fase yang disebutkan di atas pernah hidup, berkuasa dan memerintah. Sejarah lisan tersebut, agaknya menjadi pedoman bagi bangsa Eropa seperti Tideman (1922) untuk mengurai Simalungun dalam laporannya sebagai penguasa pada saat itu dan juga bagi penulis Simalungun berikutnya.
Oleh karenanya, masing-masing penulis sejarah di Simalungun membuat rekonstruksi sendiri atas kemauan sendiri dan kepentingan sendiri tanpa terikat waktu, tempat dan ruang. Akibatnya, sejarah tersebut sulit diterima secara umum dan apalagi dipergunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan demi kepentingan akademik ilmiah berikutnya.
Jika kemudian terdapat literatur yang mengetengahkan tentang kebudayaan Simalungun, yakni sejarah dan perkembangannya, maka hampir dapat dipastikan bahwa tulisan itu banyak mengadopsi pendapat-pendapat yang banyak ditulis oleh non Simalungun, dan tulisan itu pula banyak bersinggungan dengan pengaruh Agama Kristen yang dilakukan oleh rohaniawan Kristen Simalungun.
Literatur dari masa lampau Simalungun yang masih ada hingga saat ini seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (Hikayat Nagur), Partikkian Bandar Hanopan (Hikayat Silau), Partikian Panai Bolah (hikayat Panai) serta beberapa literatur yang disusun kembali serta ditransliterasi latin oleh JE. Saragih dalam pustaha lak-lak. Menurut Marim Purba, jumlah keseluruhan literatur yang membahas Simalungun, baik dari segi sejarah masa lampau dan masa kini, baik yang ada di luar negeri (Belanda) maupun di Museum Simalungun tak lebih dari 150 judul. Kesulitan lain dari beberapa pustaha tersebut adalah tidak memiliki angka tarikh (tahun) sehingga mengalami kegagalan dalam rekonstruksi kronologis kesejarahannya. Kenyataan ini sangat menyulitkan dalam rekonstruksi sejarah kebudayaan Simalungun berikutnya seperti yang banyak diakui oleh para penulis Simalungun masa kini. Oleh karena itu, diperlukan penggalian mendalam serta penelusuran secara herastik sehingga pelurusan sejarah tersebut dapat dilakukan kembali.
Leluhur Simalungun
Dalam sejarah masyarakat Batak (Toba) seperti yang telah banyak diketahui bahwa masyarakat Batak (Toba) adalah keturunan Siraja Batak yang beranak cucu kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Sumatera Utara seperti Mandailing Angkola, Pak-pak Dairi, Karo, Simalungun dan Toba serta Nias. Belakangan, Nias menyatakan bahwa mereka bukan keturunan dari Siraja Batak berdasarkan perbedaan fisik dan budaya lainnya. Dengan begitu, ke lima sub etnik itu adalah merupakan diaspora dari Batak (Toba) yang menyebar ke berbagai wilayah di kawasan itu. Keadaan lain adalah adanya klaim, penarikan garis keturunan (genealogis) berdasarkan marga (clan) yang mengacu pada klan Batak (Toba) dimana semua klan yang ada pada sub etnik Batak tersebut seolah-olah memiliki kemiripan dan kesamaan.
Dalam penguraian sejarah moety masyarakat Batak seperti yang dilakukan oleh BA Simanjuntak dipaparkan bahwa leluhur nusantara (juga Batak) berasal dari dataran tinggi Yunan dekat hulu Sungai Mekong di Cotte dan Napur Hindia Belakang. Kemudian dengan alasan tertentu melakukan migrasi ke berbagai wilayah dan sebagian di antaranya tiba di wilayah nusantara yang menghuni wilayah pantai. Gelombang yang pertama memasuki wilayah nusantara (sebahagian tiba di Sumatera Utara) ini disebut dengan Protomelayu (Melayu dalam). Selanjutnya, dalam rentang waktu tertentu, gelombang migrasi serupa juga terjadi yang disebut dengan Deutromelayu (Melayu luar). Gelombang yang kedua serta memiliki peradaban yang lebih tinggi ini, kemudian mendesak protomelayu ke pedalaman.
Secara signifikan, dapat ditarik korelasi dimana gelombang yang pertama masuk itu pastilah berdiam di Selat Malaka, kemudian mereka terdepak ke daerah pedalaman oleh gelombang migrasi berikutnya hingga ke kawasan Simalungun. Dengan begitu, gelombang yang masuk ke Simalungun pun dapat dinyatakan mengalami dua gelombang, yakni gelombang proto Simalungun dan deutro Simalungun sampai pada akhirnya terbentuk neo Simalungun pasca revolusi berdarah 1946. Dengan begitu, kondisi ini lebih memungkinkan dan hampir mendekati kebenaran sejalan dengan sejarah penyebaran ras-ras umat manusia.
Sejalan dengan itu, sesuai dengan pendapat Uli Kozok (1992) (Profesor Filologi berkebangsaan Belanda) yang mengurangi bahwa di antara bahasa-bahasa Batak, bahasa Simalungun adalah bahasa yang lebih dulu terbentuk, maka asumsi ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk merekonstruksi kembali sejarah Simalungun. Bahasa Simalungun lebih dekat dengan Bahasa Mandailing, dan lebih jauh jika dibanding dengan Bahasa Batak Toba, Karo ataupun Pak-pak. Itu berarti bahwa, kemungkinan suku bangsa Simalungun adalah suku yang pertama ada dibanding suku Batak lainnya. Kendati demikian, penggalian serta penelusuran yang lebih mendalam tentang hal ini senantiasa dilakukan sebagai upaya pelurusan sejarah, khususnya pada masyarakat kebudayaan Simalungun.


Monarhi Simalungun
Dalam literatur Simalungun (pustaha laklak) seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (pustaka tertua di Simalungun) yang mengisahkan hikayat kerajaan Nagur (kerajaan Tertua di Simalungun dinasti Damanik) dikisahkan bahwa sewaktu raja Nagur yakni Sormaliat ingin memiliki istri sekaligus sebagai puang bolon (permaisuri) dari putri pamannya (marboru tulang) yang ada di Negeri Padang Rapuhan. Untuk rencana ini, raja memerintahkan utusannya berangkat menuju negeri yang dituju untuk memberitahukan rencana tersebut.
Untuk sampai di negeri tujuan, dibutuhkan perjalanan selama tiga (bulan) dengan berjalan kaki. Berarti, dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk kembali ke tempat semula yakni di negeri Hararasan (Kerasaan sekarang) tempat Kerajaan Nagur berdiri.
Dengan estimasi dan kalkulasi tertentu, maka kemungkinan negeri yang dituju adalah Mataram Lama (Medang Faihbhumi). Kejadian itu diperkirakan berlangsung sekitar tahun 550 M bersamaan dengan kejayaan kerajaan Mataram Lama pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat beralasan dimana terdapat kesamaan struktur kerajaan yang sama seperti di Jawa. Di Sumatera hal sedemikian tidak diketemukan dan apalagi di Sumatera Utara. Jika seandainya Padang Rapuhan yang dimaksud dalam hikayat itu adalah negeri Padang (Tebing Tinggi), maka perjalanan yang dibutuhkan tentulah tidak selama itu. Lagi pula, kota Tebing Tinggi tersebut yang dibuka oleh keturunan klan Saragih berkisar tahun 1200-an.
Jadi, berdasarkan penuturan yang terdapat pada hikayat Parpadanan na Bolak tersebut dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun tersebut telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan Catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ternak ayam.
Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern seperti layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Kendatipun pada akhirnya, kerajaan itu hancur dan lebur akibat peristiwa berdarah di Sumatera Timur yang lebih dikenal dengan peristiwa revolusi sosial, dimana pada saat itu, golongan bangsawan dikejar dan dibunuh serta pembakaran istana sebagai dampak economic lag yang terjadi antar kelas.
Keadaan seperti ini bukan semata-mata bertujuan untuk memutus mata rantai integritas serta harmoni kesukuan tetapi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana sejarah itu dapat ditegakkan. Karena dari sanalah kita dapat mencapai fakta dan kebenaran sejarah sehingga tidak terjadi pengebirian sejarah di kemudian hari.

Oleh : Erond Litno Damanik MSi
Penulis: Pemerhati Pendidikan dan Pembangunan Sosial Direktur: Center for Cultural Study and Rural Community Development/The Simetri/d

PERANG PADERI DAN PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DI TANAH BATAK

Pada mulanya orang Batak tidak menganut suatu agama impor. Orang Batak mempercayai Tuhan yang dinamakan Mulajadi Nabolon atau Ompu Raja Mula –mula atau Ompu Raja Mulajadi. Di samping tuhan yang dianggap tunggal itu, dipercaya juga debata natolu yaitu tiga Tuhan yang masing-masing menguasai suatu tempat di alama raya dan dunia. Debata Batara Guru menguasai banua ginjang (dunia atas), Ompu silaon nabolon yang juga dinamakan debata sori menguasai banua tonga (dunia tengah), serta tuan pane na bolon yang juga diasosiasikan sebagai tempat kesusahan yang kekal. Orang percaya bahwa Tuhan yang tertinggi ialaha Debata Mulajadi Nabolon dan ketiga TUhan yang lain adalah titisannnya (Simanjuntak, 1966:75-77).
Sementara itu orang Minangkabau sudah menganut agama Islam sejak awal abad ke-14 yang di bawah oleh pedagang-pedangang Arab (Harahap, 1960:60). Sekitar 400 tahun kemudian beberapa diantara penganut tersebut menunaikan ibadah haji ke tanah Arab, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik,dan Haji Piobang. Sekembalinya dari Arab mereka ingin mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah yang belum menganut agama Islam. Mereka tahu bahwa orang Batak masih animis dan paganis. Mereka menuju Tanah Batak. Sistem pengembangan agama yang dilakukan ialah kekerasan dan perang (Radjab, 1954:8-9). Menurut catatan Marcopolo, agama Islam sudah masuk di Indonesia pada abad ke-13 tetapi di wilayah mana dia tidak menjelaskan. Pada abad ke-14 Ibn Battuta mengatakan bahwa Kerajaaan Pasai di Sumatera Utara sudah menganut agama Islam (Snouck Hurgronje, 1903:14). Tetapi tidak dijelaskan apakah semua penduduknya sudah beragama Islam, ataukah hanya raja saja. Kemungkinan raja menjadi Islam, karena ingin lain dari rakyat kebanyakan. Jadi demi status dan penghormatan.
Di dalam pengembangan Islam ke Tanah Batak, orang Minangkabau yang disebut orang pidari dan diartikan sebagai orang yang berjubah putih, menyerang dalam jumlah ribuan. Tentara Islam itu dipimpin oleh Tuanku Rao dan SI Pongkinangolngolan yang diakui oleh orang Batak sebagai bere (kemenakan) Raja Sisingamangaraja X (Sihombing, 1961:11). Sipongkinangolngolan diduga membalas dendam kepada tulangnya (pamannya) karena sakit hati akibat perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya dari pamannya itu.
Perang Paderi berlangsung dua kali, yaitu tahun 1825 – 1829 perang pertama, kemudian yang kedua tahun 1830 – 1833, mereka banyak membunuh orang Batak karena tidak mau di-Islamkan. Sebagian ditawan dan dibawa sebagai budak. Perang Paderi kedua membawa korban paling banyak. Sisa-sisa tawanan dijadikan budak, dan sekarang ini keturunannya bertempat tinggal di Kampung Tjubadak, Sumatera Barat (Harahap, 1960:59-60). Menurut catatan Junghuhn, korban Perang Paderi itu sekitar 200.000 orang Batak, terutama orang Batak Angkola dan Mandailing di Tapanuli Selatan (Napitupulu, 1972 :117).
Sejak Perang Paderi, maka agama Islam berkembang di Tanah Batak bagian selatan sampai sekarang. Jadi masuknya agama tersebut ke Tanah Batak disebabkan Perang Paderi, bukan karena hubungan dagan dengan Arab (Simanjuntak, 1994).
Latar belakang Perang Paderi merembet sampai ke Tanah Batak, bersumber dari pergolakan yang terjadi di tanah Minangkabau. Ketiga haji yang baru kembali dari tanah Arab itu menganut paham Islam Wahabi, ingin mengembangkan ajaran Islam yang murni. Untuk itu mereka harus menghapuskan segala adat kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Kaum adat tidak setuju adatnya diremehkan kaum Wahabi, maka pecah perang saudara di antara kaum Paderei dengan kaum adat sejak tahun 1803-1838 di Minangkabau (Radjab, 1954:8-9).
Melihat perkembangan Perang Paderi itu sendiri di tanah Minangkabau, serta melihat sikap Belanda memihak kaum adat, seta melihat beberapa perjanjian yang dibuat antara pihak Belanda dengan kaum Paderi selalu dilanggagar oleh Belanda, serta serangan-serangan Belanda yang banyak merugikan kaum Paderi, penulis berpendapat bahwa latar belakang masuknya tentara Paderi ke tanah Batak bukanlah dengan tujuan mengembangkan Islam semata-mata, maupun karena dendam salah seorang panglima Tuanku Rao yaitu si Pongki Nangolngolan, kepada Sisingamangaraja X, tetapi karena tentara Paderi semakin terdesak oleh tentara Belanda dan kaum adat, serta semakin sulitnya persediaan makanan mereka. Karena itu mereka terpaksa menyingkir kea rah utara dan menyerang serta menaklukkan Tanah Batak bagian selatan dan dijadikan basis perlawanan serta sumber bahan makanan atau logistik (Lihat disertasi Penulis “Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak”, UGM 1994).
Tetapi pandangan ini lebih tepat ditujukan pada gelombang paderi yang kedua ke Tanah Batak, yaitu tahun 1830 sejak mulai terdesaknya mereka oleh tentara Belanda, kaum adat, serta raja Gadombang (salah seorang raja Batak) dari Hutagodang Mandailing yang ingin membalas dendamnya karena serangan Paderi di tahun 1825-1830 yang banyak memakan korban rakyat Batak (Radjab, 1954:124, 141, 159-161, 356-359).
Penulis menilai bahwa peng-Islaman secara murni ke Tanah Batak baru berlangsung setelah hamper seluruh tanah Minangkabau dapat dikuasai orang Paderi. Karena menganggap sukses dengan ajaran murni tersebut, maka mereka hendak mengembangkan sayap ke Tanah Batak. Pendapat ini dibuktikan dengan pendapat yang keliru di kalangan kaum Paderi tentang kedatangan orang Belanda ke Sumatera yang dianggap dalam rangka pengembangan agama Nasrani (Snouck Hurgronje, 1903:16). Menurut penulis kaum Paderi menjadi takut didahului Belanda. Maka disaat berkecamuk perang saudara tersebut, mereka menyerang Tanah Batak dan melakukan peng-Islaman dengan cara kekerasan dan pertumpahan darah (Radjab, 1954:90-96).


Sumber:
Bungaran Antonius Simanjuntak
“Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945″
Suatu Pendekatan Sejarah, Antropologi Budaya Politik
Penerbit Yayasan Obor Indonesia

LEGENDA SI RAJA BATAK

Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.

Mulajadi Na Bolon berkata, "Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!" Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, ketiganya adalah lelaki.

Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.

Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). "Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA," kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.
"Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?" tanya Tuan Batara Guru.
"Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya," kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.

Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.
Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.
"Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal," katanya terisak-isak.
"Jangan begitu adikku," kata Datu Tantan Debata. "Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda."

Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar "gondang" karena ia ingin "manortor" (menari) semalam suntuk.
Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya.
Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke "para-para" dan dari sana ia melompat ke "bonggor" kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!

Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.
Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. "Sorry ya, apa lagi saya," katanya.
Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar "gondang" semalam suntuk karena ia ingin "manortor" juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).

Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak.
Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.
Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.
"OK," katanya. "Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan."
Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.

Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.
Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.
Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan).

Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.

Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!

LEGENDA RAJA SISINGAMANGARAJA XII

Pada tahun 1875 Patuan Bosar yang kemudian digelari dengan Raja Ompu Pulo Batu, ditabalkan menjadi Si Sisingamangaraja XII di Bakara. Si Singamangaraja XI (Ompu Sohahuaon), ayahanda Si Singamangaraja XII, nyatanya telah berfungsi sebagai Raja-Imam Batak dalam tenggang waktu yang lama sekali (50 tahun), yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1875, yakni setelah Tuanku Rau, penganjur aliran wahhabi itu membunuh Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) pada tahun 1825 di dekat Siborong-borong.
Menurut adat istiadat Batak, putra tertua dari suatu keluargalah yang diutamanakan melanjutkan pekerjaan dan fungsi orang-tuanya, khususnya di bidang adat dan pemerintahan. Karena itulah maka penduduk di Bakara dan sekitarnya ingin menabalkan Ompu Parlopuk menjadi Si Singamangaraja XII. Tetapi karena untuk dapat menjadi Si Singamangaraja, seseorang harus mempunyai ciri-ciri kharismatis pula. Persyaratan itu harus dapat dipenuhi oleh orang yang akan ditabalkan menjadi penerus pimpinan kerajaan dan keimanan Si Singamangaraja. Kepemimpinan Kharimatis harus ada pada setiap Si Singamangaraja, yang pada masa lampau, di yakini selalu syarat mutlak daripada kepemimpinan dalam kerajaan, oleh penduduk yang masih dipengaruhi oleh suasana magis dan mystis, Calon Si Singamaraja harus dapat mencabut PISO GAJA DOMPAK dari sarungnya, menurunkan hujan dan membuat tanda-tanda luar biasa (mukjizat).Persyaratan ini nyatanya tidak dapat dipenuhi oleh Ompu Parlopuk tetapi dapat dipenuhi oleh adiknya, yaitu Patuan Bosar. PISO GAJA DOMPAK itu ada sejak Si Singamangaraja I yaitu sekitar pertengahan abad XVI masehi. PISO GAJA DOMPAK adalah lambang kerajaan Si Singamangaraja. Keris itu bukanlah sembarang keris. Keris panjang ini adalah salah satu terpenting di kerajaan Si Singamangaraja yang di mulai dan berpusat di Bakara, ditepi Danau Toba, hanya sekitar 8 km dari Pulau Samosir yang indah itu.
Setelah melalui suatu proses yang berliku-liku, patuan Bosar pun, yang sebenarnya masih muda belia (sekitar 17 tahun) ditabalkan pada tahun 1875 menjadi Si Singamangaraja XII, karena ia mampu mencurahkan hujan pada musim kemarau yang parah waktu itu.
Selaku singa yang melampaui dan singa yang terlampaui “beliau mempunyai fungsi sebagai pengatur kerajaan manusia bermata hitam” di Sumatra. Ini ditambah lagi dengan fungsi kepemimpinannya dalam bidang agama, adat istiadat, hukum, ekonomi, pertanian pendidikan, kebudayaan dan militer. Jadi jelas bukan hanya sebagai PRIESTER KONING sebagaimana dikemukakan oleh pihak kolonial Belanda.
Si Singamangaraja bukanlah tokoh mitologis, melainkan tokoh historis yang pernah benar-benar hidup dan berjuang demi kepentingan rakyat ketika mengadakan perlawanan sengit terhadap Belanda.
Si Singamangaraja diakui sebagai raja dan imam besar (DATU BOLON) oleh semua suku Batak. Akan tetapi selain dia, rakyat masih mempunyai imam-imam di daerah- daerah dan kampung-kampung. Mereka inilah yang mempunyai hak untuk melakukan upacara pengorbanan dan pemujaan di tempat masing-masing, seperti pada saat sebelum dan sesudah anak lahir, waktu pemberian nama, pada pesta perkawinan dan upacara kematian.
Perang yang berlangsung selama 30 tahun di Sumatra Utara itu berakhir secara tragis, bukan bagi keluarga Si Singamangaraja XII dan rakyat Sumatra Utara, melainkan juga bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia di seluruh Nusantara. Hal ini demikian mengingat bahwa perjuangan Raja Si Singamangaraja XII bukan saja demi kepentingan dirinya, atau kepentingan keluarganya sendiri, melainkan berupa perjuangan Nasional yang dilakukan bersama-sama dengan suku bangsa lain untuk melawan para penjajah Belanda yang datang merebut negeri dan kekayaan penduduk Indonesia.
Pada tanggal 17 Juni 1907, hari yang naas, Raja Si Singamangaraja XII telah gugur di tembak oleh anak buah Christoffel. Raja Si Singamangaraja XII tidak gugur sendirian. Bersama dengan beliau turut juga gugur dua orang putra kendungnya, para pejuang yang tidak kenal kata menyerah dalam kamusnya, yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Pun seorang putrinya yang berusia 17 tahun yang bernama Boru Lopian, seorang srikandi sejati yang selama ini dilupakan - turut juga tewas oleh berondongan peluru Belanda di suatu jurang yang ditumbuhi hutan rimba yang kelam, di Sindias di kaki gunung Sitopangan, kira-kira 9 - 10 km dari Pearaja, Sionomhudon, Tapanuli, Sumatra Utara. Seorang tokoh lain bernama Ompu Parlopuk, abang Si Singamangaraja XII, telah meninggal sebelumnya ketika mengadakan perang gerilya menghadapi Belanda. Permaisuri Si Singamangaraja XII, Boru Situmorang, menjelang tertembaknya Si Singamangaraja XII meninggal pula karena bergerilya di tengah hutan rimba Sumatra Utara. Bahkan cucunya yang sangat dicintainya, Pulo Batu, Putra Patuan Nagari telah menutup usia pada umur amat muda karena kelaparan ketika berkecamuknya perang gerilya dan dalam keadaan dikejar-kejar oleh Belanda. Ucapan terakhir Si Singamangaraja XII ketika gugur di jurang Sindas, Sitopangan, di Sumatra Utara ialah “AHU SI SINGAMANGARAJA”.
Dikutip dari :
1. AHU SI SINGAMANGARAJA Oleh : Prof. DR.W. Bonar Sidjabat
2. MAKNA WIBAWA JABATAN DALAM GEREJA BATAK Oleh : Dr. Andar M. Lumbantobing
Entri ini ditulis oleh rapolo dan dikirimkan oleh Oktober 14, 2003

ASAL-USUL KERAJAAN PURBA

MENURUT hikayat, asal-usul Kerajaan Purba dimulai di kampung Tungtung Batu daerah Pakpak. Pada saat itu, terjadi suatu bencana yaitu mengganasnya sejenis burung buas yang oleh penduduk setempat disebut Manuk-Manuk Sipitu Ulu (Burung Berkepala Tujuh) atau Manuk Nanggordaha. Burung tersebut sudah banyak memakan korban terutama anak-anak yang menjadi mangsa kegemarannya. Karena dahsyatnya bencana tersebut, maka raja di daerah itu, Raja Silima Pungga-Pungga, membuat sayembara bahwa siapa yang dapat membunuh burung ganas itu, ia akan dikawinkan dengan putri raja dan diangkat menjadi Raja Pandua atau wakil raja.
BERITA sayembara tersebut begitu meluasnya, hingga sampai terdengar ke daerah Kampung Batu Sarindan daerah Singkel, Aceh Selatan. Di kampung Batu Sarindan ada seorang tua bernama Tuan Pintu Batu yang mempunyai putra tunggal bernama Raendan.
Pemuda Raendan meminta izin pada orang tuanya untuk mengikuti sayembara tersebut. Pada mulanya, Tuan Pintu Batu merasa keberatan mengingat Raendan adalah anak satu-satunya, tetapi karena desakan yang terus-menerus dari si anak, maka ia merelakan juga. Sebelum pergi, si anak diberi sebuah senjata pusaka yaitu Ultop (Sumpit) dengan Likkit Beracun.
PEMUDA ini pun mulailah mengembara untuk mencari burung tersebut. Setelah sekian lama mengembara, maka datanglah burung tersebut untuk kembali memangsa anak-anak. Begitu bertemu dengan burung itu segera si pemuda menghembuskan Ultop-nya kearah burung itu, tetapi ternyata bidikannya meleset sehingga burung itu tidak mati, malah terbang lagi dari satu pohon ke pohon lainnya.
PERISTIWA mengejar burung itu berlanjut sampai berbulan-bulan, sehingga tanpa terasa telah banyak daerah yang dilewati dan kemudian sampailah ia pada suatu daerah yang bernama Nagur Araja. Kebetulan di daerah itu sedang terjadi peperangan sehingga tertangkaplah si pemuda Raendan ini oleh tentara Raja Tuan Nagur Raja. Di hadapan raja, kemudian ia menceritakan pengalamannya tentang berburu burung ganas. Karena raja merasa bahwa ceritanya adalah benar dan yakin bahwa ia bukan seorang mata-mata musuh, maka raja membatalkan penahanan terhadapnya dan memutuskan bahwa si pemuda Raendan harus menjadi abdi raja.
SELAMA mengabdi kepada raja, si pemuda Raendan kemudian berhasil membentuk Pasukan Khusus Sumpit Berbisa yang ternyata telah banyak memenangkan peperangan. Dan karena jasa-jasanya inilah kemudian ia dinikahkan dengan putri raja yang bernama Tapi Omas boru Damanik.
BEBERAPA lama kemudian, raja mengajak Raendan untuk berburu. Tak disangka-sangka, pada saat berburu itu, si Raendan bertemu dengan burung ganas yang telah diburunya mulai dari kampung Tungtung Batu di daerah Pakpak. Maka pengejaran terhadap burung itu pun dilakukan lagi dan kali ini tembakan sumpitnya tidak meleset, tapi anehnya burung itu belum mati malah tetap terbang dari satu pohon ke pohon lainnya dengan meninggalkan luka sumpit.
PENGEJARAN pun sampailah di daerah sekitar Pematang Purba sekarang, di mana burung itu menjadi lelah terbang karena luka sumpit, dan akhirnya jatuh dan mati. Dengan membawa bangkai burung itu sebagai bukti pulanglah si Raendan ke Nagur Araja. Tapi ternyata dalam perjalanan pulang, dia tersesat di sebuah kampung yang bernama Simallobong yang dipimpin oleh Tuan Simallobong Damanik yang ternyata masih keturunan Raja Nagur, sehingga dengan cepat terjadi keakraban di antara keduanya. Maka tinggallah Raendan untuk beberapa lama di kampung itu.
PADA suatu hari datanglah mertua Tuan Simallobong Damanik yang bernama Tuan Silampayung Saragih untuk berkunjung. Pada kunjungan itu, Tuan Silampayung Saragih membawa juga adiknya yang berparas cantik. Raendan merasa terpikat oleh kecantikan Putri Saragih dan ternyata si Putri pun merasa terpikat.
AGAR si "pemuda" Raendan dapat menikah dengan si Putri, maka ia secara diam-diam pindah dari kampung Simallobong dan membuka ladang pertanian di daerah pinggiran kampung itu. Di situlah ia menikah dengan si Putri, hidup rukun dan damai untuk beberapa lama.

TETAPI akhirnya berita perkawinan mereka sampai juga ke telinga Tuan Simallobong Damanik, yang membuatnya marah karena si "pemuda" Raendan sebenarnya telah menikah. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena perbuatannya telah diketahui, maka mengungsilah Raendan ke daerah Pematang Purba di mana dia membunuh burung ganas dulu.

DI daerah Pematang Purba, Raendan juga membuka ladang pertanian. Dan berkat ketekunannya, ladang itu menghasilkan panen yang luar biasa melimpah sehingga saking begitu melimpahnya si Raendan memberikan sebagaian hasil panennya kepada para tetangga. Lama-kelamaan si Raendan menjadi tempat untuk meminta tolong bagi banyak orang di sekitarnya dan ternyata dia juga tidak segan-segan dalam menolong orang lain, sehingga ia menjadi orang yang sangat dihormati dan kemudian dipanggil Tuan Purba.
LAMA-KELAMAAN nama Tuan Purba ini juga terdengar oleh Tuan Simallobong, yang menganggapnya sebagai saingan. Maka Tuan Simallobong mengirimkan perintah agar si Putri (istri Tuan Purba) dipulangkan dan ia harus pergi meninggalkan daerah itu. Tapi perintah itu tidak digubris, malah Tuan Purba menyatakan bahwa tanah tempat dia sekarang tinggal adalah tanah miliknya. Mendengar hal itu Tuan Simallobong menjadi marah dan dia meminta Tuan Purba mengucapkan sumpah di depan para dukun dan semua orang, yaitu apabila setelah sumpah itu diucapkan ia masih hidup maka tanah itu menjadi miliknya.
TANTANGAN itu diterima oleh Tuan Purba dan ia meminta beberapa waktu untuk bersemedi. Ternyata Tuan Purba pulang ke kampung ayahnya untuk meminta petunjuk. Oleh ayahnya, ia dibekali dengan segenggam tanah, selembar ampang (kulit kambing), dan air satu tatabu (labu). kemudian berangkatlah ia kembali ke Pematang Purba.
SETELAH waktu yang ditentukan tiba, maka berkumpulah semua orang dari sekitar daerah Purba, wakil-wakil rakyat dari semua daerah di Simalungun di Tigarunggu di mana sumpah itu akan diucapkan. Kemudian Tuan Purba mengambil tanah yang dibawanya dari kampunng ayahnya, dialasinya dengan ampang dan duduk di atasnya. Kemudian ia mengambil tatabu dan mulai meminum airnya sambil bersumpah : “Anggo lang tanohku na huhunduli on, janah bahku na huinum on, mateima ahu. Tapi anggo tanohku do na huhunduli on janah bahku do na huinum on, ahu ma hot jadi Tuan ijon”. (Kalau bukan tanahku yang kududuki ini dan bukan airku yang kuminun ini, maka matilah aku. Tapi kalau ternyata tanahku yang kududuki ini, dan airku yang kuminum ini, maka jadilah aku Tuan di sini).

TERNYATA sampai beberapa lama, Tuan Purba tetap segar-bugar. Akhirnya semua masayarakat menyatakan bahwa Yang Mahakuasa merestui Tuan Purba menjadi tuan di daerah itu yang kemudian menjadi terkenal menjadi Tanah Purba.
PADA tahun 1515, Raendan dinobatkan menjadi Tuan Purba/Raja Purba dengan marga Purba Pakpak mengingat dari daerah Pakpaklah ia mulai pengembaraannya. Dan sejak itu, resmilah Kerajaan Purba menjadi kerajaan keenam di daerah Simalungun, setelah kerajaan Dolog Silau, Tanoh Jawa, Panei, Raya, dan Siantar.
DARI cerita itu, dianggap bahwa Tukang Sumpitlah ompung dari Purba Pakpak.@

AKAR KETERPURUKAN SIMALUNGUN DARI PERSPEKTIF HISTORIS

Oleh: Pdt. Juandaha Raya Purba Dasoeha, STh

Dalam suatu perbincangan, seorang Bapak, katakanlah yang sudah lama berkecimpung di dunia politik, mengatakan kalau Simalungun adalah bangsa yang besar, lalu saya katakan, Simalungun bukan besar tetapi kecil, bahkan saking kecilnya, orang di luar Simalungun, tidak kenal apa itu “Simalungun¨. Bapak itu, marah-marah dan mengatakan, kalau saya sebagai pendeta tidak peduli dengan Simalungun, malahan bukan membesarkan Simalungun, melainkan sebaliknya makin mengecilkan Simalungun. Ai, na sonaha do nasiam pandita namaposo sonari on, lang dong be huidah parduli nasiam bani Simalungun on…?

Saya senyum-senyum saja, berat rasanya mengatakan kepada Bapak itu, bahwa realitas Simalungun yang kecil itu tidak dapat dipungkiri, lihat saja kompleksnya permasalahan yang muncul di Tanoh Simalungun sekarang ini. Mulai dari jalan-jalan yang rusak, sampai pembangunan yang berorientasi pada kepentingan simbolik yang mengabaikan masalah perut sebagian besar warga Simalungun yang hidup di tengah himpitan kemiskinan dan keterpurukan, khususnya di huta-huta sana.

Dan yang tak kalah serunya, sekarang ini ada inisiatif orang pendatang di Simalungun yang hendak membagi-bagi Kabupaten Simalungun menjadi tiga Kabupaten, dengan menyisakan satu Kabupaten Simalungun di enclave etnis Simalungun mulai dari Kec. Raya, Purba, Silimakuta, Dolog Silou dan Raya Kahean, sedang yang dua lagi diberi
nama Kabupaten Nusantara dan Dano Toba yang rasanya cukup nasionalis dan lintas etnis, bukan ? Belum lagi, kabar-kabarnya (gan baritani), pejabat-pejabat dari etnis Simalungun banyak yang digusur dari kursi kebesarannya di Kantor Bupati Simalungun dan serta merta digantikan pejabat-pejabat dari etnis lain dan saking nasionalisnya Simalungun, ada pejabat yang diimpor dari luar Kabupaten Simalungun.
Dan hebatnya lagi, karena begitu nasionalisnya orang Simalungun, sampai-sampai banyak orang Simalungun, khususnya di kota-kota di luar homeland etnis Simalungun yang sudah salih berpredikat baru sebagai orang nasionalis dengan menjadi orang Indonesia, Betawi, Melayu, Batak Toba, Karo, Cina dan suku bangsa/kultur suku bangsa lain yang konon (gan), lebih keren dan modis ketimbang bahasa, suku bangsa dan kultur halak Simalungun yang konon, katanya sudah ¡§ketinggalan zaman¡¨ dan tak layak jual di dunia modern sekarang ini.

Setuju atau tidak setuju, realita keetnisan Simalungun sekarang ini, makin menunjukan ketidakeksisannya dan mudah-mudahan saja tidak keburu segera menjadi ¡§almarhum¡¨ di tengah maraknya tuntutan otonomi dan kekhasan kulutal daerah-daerah di era otonomi daerah dan reformasi ini. Kita lihat saja, apakah masih ada orang-orang Simalungun seperti Brigjen (Purn) Radjamin Purba, Tuan Madja Purba, Haji Ulakma Sinaga, Pdt. J. Wismar Saragih, Guru Jason Saragih, Brigjen (Purn) T.S. Mardjans Saragih, Brigjen (Purn) Lahiradja Munthe, Pdt. Jenus Purbasiboro, dr. Djasamen Soembajak, Pangoeloe Balei Djaoedin Saragih dan tokoh-tokoh Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen (1928) yang tanpa pamrih memperjuangkan Simalungun menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Dalam tesis yang dikemukakan Prof. Dr. Bintan Regen Saragih yang ayahnya Pdt. Williamer Saragih dibunuh PRRI di Sibuntuon tahun 1960, dijelaskan paling tidak ada enam penyebab kelambanan pergerakan kemajuan sosial-politik, religius dan ekonomis orang Simalungun (khususnya GKPS).

• Pertama, Perang Dunia Kedua, yang mengakibatkan lambannya perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi dan sedikitnya informasi dan bantuan ke Simalungun.

• Kedua, Revolusi Sosial, 3 Maret 1946 yang meluluhlantakkan kebesaran Simalungun dengan pembunuhan kaum elitis-intelektual dan birokrat maupun aristokrat Simalungun perdana. Terbentuknya NST (Negara Sumatera Timur) dengan raja Tanah Jawa Tuan Kaliamsyah Sinaga dan Tuan Djomat Purba sebagai wali negara dan kepala kepolisian NST yang menegaskan realitas historis sifat provinsialisme orang Simalungun yang konon kurang berkenan di hati orang republik, sehingga Simalungun dicap bukan nasionalis sejati dan terkesan separatis.

• Ketiga, peristiwa PRRI, 1959-1961 yang memandekkan pembangunan golongan menengah di Simalungun.

• Keempat, peristiwa G 30-S/PKI, 1965 yang melumpuhkan kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya (termasuk keagamaan) di seluruh Indonesia, termasuk Simalungun.

• Kelima, lambannya orang Simalungun (khususnya GKPS) menyikapi aliran Kharismatik dan aliran-aliran fundamentalisme Kristen yang berkembang subur saat ini yang lebih mengedepankan pertumbuhan iman dan mengabaikan kepedulian pada masalah-masalah krusial di tengah-tengah masyarakat. Semboyan Kristen, yes, partai Kristen, no, makin menjauhkan orang Kristen dari ruang-ruang politik di negeri ini, sehingga dikuatirkan kekristenan akan menjadi penonton di tengah percaturan politik di Indonesia (Ingat, lolosnya RUU Sisdiknas yang diskriminatif dan upaya intervensi negara yang terlalu jauh ke wilayah ¡§privat¡¨ Kristen di sekolah-sekolah, bukti lemahnya kredibilitas dan lobi politisi Kristen di parlemen).

• Keenam, Kelambanan orang Simalungun (khususnya GKPS) menghadapi derasnya arus golobalisasi dan teknologi informasi. Lihat saja di tanoh hasusuranta Simalungun sekarang ini, semakin banyak anak-anak dan pemuda Simalungun yang melalaikan kewajibannya menuntut ilmu dan menyerap teknologi sebagai bagian amal-ibadahnya. Banyak penyebabnya, mulai dari sikap tidak peduli, ekonomi yang seret, sampai orangtua yang lebih menganggap niombah sebagai asset tenaga kerja yang murah ketimbang diarahkan pada hal-hal yang bersifat membangun integritas dan masa depannya yang lebih baik, bukan saja pada keluarganya tetapi pada seluruh Simalungun.

Nah, inilah beberapa fenomena dan realitas yang terjadi di tengah-tengah Simalungun dewasa ini. Bagaimana orang Simalungun menyikapinya ? Eh, apakah kita yang membaca tulisan ini masih merasa sebagai halak Simalungun ? (Maksud saya pribadi yang marahap Simalungun dan concern dengan Simalungun ; bukan marga; marga bukan penentu mutlak beridentitas Simalungun, toh banyak juga orang yang bukan bermarga Sinaga, Damank, Purba, Saragih dan Sipayung yang lebih mahir dan konsekuen berbahasa, beradat dan berbudaya Simalungun di Tanah Jawa, Bandar dan Asahan sana). Kalau sudah bukan lagi Simalungun, saya sarankan abaikan saja tulisan ini, dan anggap ini hanya sebuah tulisan yang layak di buang ke tong sampah atau agar lebih sopan, dimasukkan ke arsip atau map worksheet Anda. Beres bukan ?

Penulis yang prihatin dengan makin banyaknya orang yang bangga dengan desimalungunisasi-nya atau mengaku halak Simalungun, tapi tidak ambil peduli dengan jeritan talunta Simalungun.

Horas, diatei
tupa. Salam Jubileum.